Bahaya Hipertensi Pada Ibu Hamil

Posted on

Tekanan darah tinggi dikenal masyarakat luas sebagai gangguan yang dapat memicu penyakit mematikan seperti stroke, serangan jantung, dan berbagai penyakit berbahaya lainnya.

Hipertensi merupakan gangguan yang terjadi pada tubuh karena aliran atau tekanan darah dalam tubuh terlalu tinggi, tingginya tekanan ini diukur dari sistol dan diastole yaitu ukuran yang dipakai dalam dunia medis untuk menghitung tekanan saat jantung mempompa dan saat relaksasi.

Tekanan dalam tubuh yang terlalu tinggi dapat menyebabkan kapiler darah terpecah karena tekanan yang terlalu kuat. Dapat dibayangkan jika selang yang kita gunakan kecil tetapi aliran air sangat besar, karena telah melampaui kekuatan selang maka selang dapat pecah sewaktu waktu. Hal inilah yang menyebabkan hipertensi menjadi pemicu penyakit berbahaya.

Begitu juga dengan ibu hamil. Ibu hamil yang mengalami hipertensi dapat menyebabkan berbagai resiko lain yang bahkan lebih berbahaya dibandingkan dengan orang normal. Karena ibu hamil mengandung janin yang sangat rentan terhadap perubahan dalam tubuh ibu meskipun itu sangat sedikit.

Bagi kaum ibu yang mengalami kehamilan tekanan hipertensi yang masih baru juga sama membahayakannya dengan hipertensi yang sudah menjadi kronis, sehingga sangat penting bagi ibu hamil untuk tetap mengontrol tekanan darah agar dalam angka yang normal. Batasan hipertensi pada ibu hamil adalah 140 / 90 mmHg. Jika melebihi angka tersebut maka ibu divonis mengalami hipertensi.

Meski demikian alangkah baiknya jika tekanan darah dijaga agar tidak sampai di atas 110 karena meskipun tidak mencapai level hipertensi namun gangguan aliran darah dapat menyebabkan tumbuh kembang janin tidak optimal.

Selama masa kehamilan, hipertensi sebisa mungkin harus dihindari karena dapat mengancam jiwa janin dan juga sang ibu. Ibu yang melahirkan jika mengalami hipertensi juga dapat meninggal saat masa persalinan.

Dalam kehamilan hipertensi dibagi menjadi 4 macam hipertensi yaitu :
1. Hipertensi Kronis
Yaitu hipertensi yang muncul pra kehamilan hingga janin berumur kurang dari 20 minggu. Hipertensi ini terjadi karena adanya aktifitas hormon pada tubuh wanita yang mempersiapkan diri untuk proses kehamilan.

2. Hipertensi Gestasional
Merupakan hipertensi lanjutan yang terjadi setelah usia kehamilan 20 minggu ke atas. Meskipun hal ini merupakan hal yang wajar dalam proses kehamilan namun tekanan darah harus tetap dikontrol agar tidak menimbulkan dampak negatif bagi janin dan ibu.

3. Hipertensi Pra-Eclampsia
Hipertensi yang terjadi pada usia kehamilan lebih dari 20 minggu yang dibarengi tingginya kadar protein dalam tubuh. Hipertensi pre-eclampsia sangat berbahaya karena dapat menyebabkan kecacatan pada janin. Aliran darah pada plasenta janin berkurang dan juga dapat merusak plasenta. Hal ini sekaligus bisa mengancam jiwa bayi

4. Hipertensi Eclampsia
Merupakan hipertensi yang lanjutan dari pra-eclampsia yang terjadi karena tidak diatasi dengan cepat. Hipertensi ini menunjukkan gejala yang sama ditambah dengan tremor atau kejang.

Paket Nutrisi Kehamilan (CH+Pollenergy)

Klik Untuk Info Lebih Lanjut

Untuk mencegah agar tidak sampai hipertensi maka langkah langkah berikut dapat dilakukan :
1. Memeriksakan tekanan darah secara rutin sebelum masa kehamilan agar tekanan darah dapat dikontrol dengan akurat.
2. Menghindari konsumsi obat obatan dan makanan tinggi garam.
3. Hindari alkohol, rokok, serta makanan tinggi lemak dan kolesterol jahat.
4. Berolahraga yang dikhususkan untuk para ibu hamil, selain menyehatkan tubuh aliran oksigen dari ibu ke janin dapat lancar sehingga tumbuh kembang janin dapat maksimal.