Mengatasi TBC pada Balita / Anak-Anak

Posted on

TBC yang terjadi pada anak di bawah usia 15 tahun terutama yang terjadi pada balita disebut dengan tubercolosis pediatric di mana penyakit ini akan menginfeksi saluran pernafasan pada saluran pernafasan balita yang sistem imunitasnya masih sangat rentan. Penularan TBC ini biasanya terjadi melaluii udara sehingga penularannya akan sangat cepat bahkan mudah bagi bakteri TBC untuk berpindah dari orang yang sakit ke orang yang sehat.

Penularan tersebut terjadi ketika penderita batuk, bersin, berbicara dengan lawan bicaranya.TBC disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis dan penyakit ini sangatlah mudah menular dari satu orang ke orang lain terutama dari orang dewasa menuju ke balita, penularan dari balita ke balita akan lebih rendah karena balita masih belum mampu batuk atau bersin dengan kuat.

TBC pada balita terjadi pada dua tahap yaitu tahap pertama disebut tahapan infeksi di mana penyakit TBC masih belum menunjukkan gejala sakit secara penuh, bakteri yang masuk ke dalam tubuh masih dapat ditekan oleh sistem pertahanan tubuh sehingga bakteri TBC masih belum berkembang sepenuhnya. Tahap kedua adalah tahap di mana TBC disebut sudah menjangkiti karena bakteri sudah berkembang dan gejala TBC mulai tampak.

Penyebab dari masuknya TBC pada balita dapat terjadi karena beberapa faktor mulai dari kondisi balita yang kurang sehat sehingga penyakit mudah menjangkiti balita, kurang bersihnya sanitasi dari lingkungan karena lingkungan yang kotor dapat menularkan penyakit dengan mudah dibandingkan dengan lingkungan yang terjaga kebersihannya. Lalu penularan yang terjadi akibat dari gangguan imunitas pada balita yang dikenal dengan autoimunitas dimana balita memiliki sistem imunitas yang sangat lemah dan rentan terhadap gangguan dari luar.

Peran orang tua untuk melakukan pertolongan pertama pada balita sangatlah vital karena ketika gejala TBC terlihat pada balita maka orang tua harus segera memberikan penanganan lanjut.

Gejala TBC yang ditunjukkan pada balita berupa batuk batuk, berat badan turun, anak kurang semangat, keluar keringat dingin, dan demam. Ketika gejala TBC pada anak muncul maka sebetulnya sudah terlambat karena proses perusakan pada saluran pernafasan sudah berjalan.

Info lebih lanjut SMS ke 0896 9967 1737 atau Pin BBM di 25CB027F

Info lebih lanjut SMS ke 0896 9967 1737 atau Pin BBM di 25CB027F

Untuk baiknya disarankan bagi orang tua untuk melakukan tindakan pencegahan dengan :
1. Melakukan karantina
Karantina diperlukan pada penderita TBC baik pada balita maupun orang dewasa, untuk memotong siklus penularan maka karantina harus dilakukan. Terutama bagi balita yang masih rentan terhadap penyakit.

2. Memberikan vaksin
Vaksin yang diberikan pada balita dapat membantu mengurangi resiko terjangkiti virus TBC, pemberian vaksin juga harus diberikan dengan bantuan pediatris yang dapat mengetahui dengan pasti kapan vaksin diberikan agar daya tahan tubuh anak meningkat terhadap bakteri TBC.

3. Menjaga kebersihan
Kebersihan juga sangat penting, mencuci tangan sebelum makan merupakan cara ampuh membunuh kuman, menjaga kebersihan rumah mulai dari alat makan, kebersihan kamar dan lingkungan rumah akan memberikan kondisi yang kondusif untuk balita agar berkembang dengan optimal.

Info Lebih Lanjut, silakan SMS ke 0896 9967 1737 atau Pin BBM di 25CB027F / www.ProdukMadu.com

Info Lebih Lanjut, silakan SMS ke 0896 9967 1737 atau Pin BBM di 25CB027F / www.ProdukMadu.com

Untuk melawan dan melenyapkan bakteri tubercolosis, bisa diberikan suplemen perlebahan yang berfungsi sebagai antibiotika alami sekaligus anti infeksi, anti radang dan anti virus berupa 2 sampai 3 x ½ kapsul Bee Propolis 500mg setiap pagi dan sore serta 3×1 sendok makan Clover Honey (pada anak usia 2-5 tahun). Sementara untuk penderita dengan usia 5 tahun ke atas bisa diberikan 3×1 hingga 3×2 tablet Bee Propolis 500mg (tergantung tingkat keparahan penyakitnya) dan 3×1 sdm Clover Honey setiap hari.

TBC pada anak dan balita merupakan penyakit yang sangat berbahaya. Oleh karena itu harus SEGERA ditangani karena keterlambatan penanganan bisa mengakibatkan dampak yang sangat serius bahkan bisa merengut nyawa anak/balita penderita.